Simulated Annealing

Posted: Maret 11, 2012 in Informatika
Tag:, , ,

Warning : Materi Informatika. Berat.

A long, boring detail about Simulated Annealing (not really, I just copy-paste from Wikipedia)

Simulated annealing (SA) adalah salah satu algoritma optimisasi yang bersifat generik, berdasar probabilitas dan mekanika statistikAlgoritma ini dapat digunakan untuk mencari pendekatan terhadap solusi optimum global dari suatu permasalahan. Masalah yang membutuhkan pendekatan SA adalah masalah-masalah optimisasi kombinatorial, di mana ruang pencarian solusi yang ada terlalu besar, sehingga hampir tidak mungkin ditemukan solusi eksak terhadap permasalahan itu.

Publikasi tentang pendekatan ini pertama kali dilakukan oleh S. Kirkpatrick, C. D. Gelatt dan M. P. Vecchi, diaplikasikan pada desain optimal hardware komputer, dan juga pada salah satu masalah klasik ilmu komputer yaitu Traveling Salesman Problem.

Annealing adalah satu teknik yang dikenal dalam bidang metalurgi, digunakan dalam mempelajari proses pembentukan kristal dalam suatu materi. Agar dapat terbentuk susunan kristal yang sempurna, diperlukan pemanasan sampai suatu tingkat tertentu, kemudian dilanjutkan dengan pendinginan yang perlahan-lahan dan terkendali dari materi tersebut. Pemanasan materi di awal proses annealing, memberikan kesempatan pada atom-atom dalam materi itu untuk bergerak secara bebas, mengingat tingkat energi dalam kondisi panas ini cukup tinggi. Proses pendinginan yang perlahan-lahan memungkinkan atom-atom yang tadinya bergerak bebas itu, pada akhirnya menemukan tempat yang optimum, di mana energi internal yang dibutuhkan atom itu untuk mempertahankan posisinya adalah minimum.

Simulated Annealing berjalan berdasarkan analogi dengan proses annealing yang telah dijelaskan di atas. Pada awal proses SA, dipilih suatu solusi awal, yang merepresentasikan kondisi materi sebelum proses dimulai. Gerakan bebas dari atom-atom pada materi, direpresentasikan dalam bentuk modifikasi terhadap solusi awal/solusi sementara. Pada awal proses SA, saat parameter suhu (T) diatur tinggi, solusi sementara yang sudah ada diperbolehkan untuk mengalami modifikasi secara bebas.

Yeah, intinya :

1. Annealing itu proses penurunan suhu logam. Atom2 bergerak bebas menuju ke titik optimum, sehingga terjadi pendinginan

2. Simulated annealing : Meniru konsep ini. Atom2 yang bergerak bebas = solusi yang digenerate secara random. Titik optimum : Titik di mana solusi ditemukan.

3. Pertama kali dipakai di TSP – Travelling Salesman Problem, masalah di mana seorang sales harus mengunjungi semua kota dalam peta, hanya sekali pada masing-masing kota, tidak boleh berulang, dan jarak seminimal mungkin

As a side note : I write this since I got the same exact assignment few weeks ago. Which involved all-girls-team, learning matlab within 2 days, and a program running amok for 4 hours straight… Since I didn’t bother to search wikipedia at the time I was pretty much clueless and put the variables randomly. The result is a brute force – like program.

Moral value? GOOGLE first.

 

CurrentState = Create Initial Solution                   

BESTSOFAR = CurrentState

Set Initial Temperature (Tawal&Takhir)

while (Tawal>Takhir) do

                repeatk times

                                if( k = 1) then

                                                NewState = CreateState(BESTSOFAR)

                                else

                                                NewState = CreateState(CurrentState)

                                end if

                                ΔE = E(NewState) – E(CurrentState)

                                if (ΔE <= 0) then

                                                CurrentState = NewState

                                                if(  E(NewState)  <  E(BESTSOFAR)  )then

                                                                BESTSOFAR = NewState

                                                end if

                                elseif ( P > random(0, 1) ) then

                                                currentState = newState

                                end if

                end repeat

                Tawal = α * Tawal

end while

 

“Kalau ingin pintar, baca textbook!” itu kata-kata dosen saya.

Idealnya sih gitu.

Kenyataannya : textbook yang tebal itu hanya cocok sebagai bantal, disimpan sebagai jimat : merasa cukup ‘aman’ asalkan sudah punya, dan ga pernah dibaca. Itu pun kalau niat beli. Paling berfungsi tambahan buat mukul maling (?)

Jangankan textbook,e-book pdf saja sudah malas bacanya. Slide kuliah saja yang berbahasa Indonesia juga malas :D

(Ini mahasiswa kebanyakan ya… yang rajin sih termasuk exception)

Nah! Kali ini saya akan membahas text book yang menurut saya cukup menarik : Head First series (yang saya hanya mengcopy pdf nya secara gratisan :D ) kebanyakan tentang ilmu komputer dan informatika, walaupun ada juga yang tentang sains.

Kalian ingat waktu zaman SD biasanya buku-buku bergambar, berwarna-warni supaya menarik? Buku head first ini sama seperti itu.

Buku ‘bergambar penuh warna-warni’ yang saya maksud di sini adalah tampilannya, bukan berarti ‘isinya jelek, kosong dan basa-basi, hanya mengandalkan tampilan’. Materinya tetap bagus, namun yang menjadi nilai lebih adalah cara penyampaiannya yang sangat bagus.

Kelebihan buku ini : Menjelaskan dengan contoh kasus, seperti cerita kehidupan sehari-hari. Jadi kita tahu apa gunanya belajar ini. Menggunakan gambar di sana-sini. Kemudian memaparkan masalah yang dihadapi dan cara penyelesaian yang paling gampang dan pertama kali terpikirkan. Oke, satu masalah selesai. Kemudian bertahap, tahap kedua, akan diberikan contoh masalah yang lebih kompleks, dan dijelaskan kenapa cara yang tadi tidak bisa lagi digunakan. Oke, kita perbaiki lagi. Begitu terus secara bertahap, pembacanya belajar, dan baru di akhir buku terdapat kesimpulan, poin penting dan soal. (Soalnya persis soal anak SD…menghubungkan garis dengan jawaban, atau tts dan semacamnya) Dengan kunci jawaban.

Ilustrasi di bawah ini mungkin cukup menggambarkan :

Buku anak-anak TK dan SD biasanya selalu dibuat menarik supaya anak-anak mau belajar. Kenapa konsep ini nggak diterapkan juga buat mahasiswa dan orang dewasa? Mereka juga asalnya anak-anak, yang tumbuh dewasa!

Prinsip penerapan otak kanan : Otak akan jenuh melihat isi yang hanya tulisan melulu, dan akan menganggap gambar dan warna sebagai sesuatu yang menarik dan lebih mudah menyerap.

“Tapi kan sudah mahasiswa, harusnya bukan anak-anak lagi dong. Harus bisa baca buku-bantal-tebal-penuh-tulisan.”

Harusnya sih kayak begitu.

Kenyataannya kebanyakan masyarakat Indonesia kan malas membaca (yang minoritas jangan tersinggung, apalagi yang mayoritas :D ) Harapannya buku seperti ini akan menarik minat baca, dan lebih mudah dimengerti.

Jadi kenapa nggak ada buku seperti ini berbahasa Indonesia? Buku perkuliahan disertai ilustrasi gambar dan kasus contoh soal di dunia nyata dan interaktif. (Atau mungkin ada tapi harganya terlampau mahal sehingga saya tidak melirik atau sangat jarang sekali).

IMO, buku seperti ini bagus sekali untuk pembelajaran.  Bahkan bagi mereka yang sudah dasarnya rajin membaca sekalipun; karena walaupun mereka nggak butuh ‘buku bergambar’ untuk menarik minat baca, percaya atau tidak, mereka lebih cepat belajar dan mengerti dari ‘buku bergambar penuh warna-warni’ dibanding buku tebal penuh tulisan kecil-kecil rapat-rapat, percaya atau tidak.

Kenapa saya menekankan ‘buku berbahasa Indonesia’ adalah dengan alasan yang sama : (kebanyakan) masyarakat Indonesia kemampuan berbahasa Inggrisnya rendah. Sebagus apapun textbook, e-book, kalau ternyata berbahasa Inggris, sudah menyerah dulu. :D

Saya berharap ke depannya akan ada buku seperti ini – entah dari pengajar/dosen/guru yang bersedia menulis (dengan resiko dibajak ). Atau mungkin ada penerbit yang mau menerjemahkan buku-buku seperti Head First ini. Siapa tahu?

Imagine a world where the knowledge is more accessible, easier to understand, and free.

black-binary-love-t-shirts_design

(Copas hasil googling)

 

Sweetheart ,

 

I’ve seen you yesterday while surfing on the local train platform and realized that you are the only site I was browsing for. For a long time I’ve been lonely; this has been the bug in my life and you can be a real debugger for me now.

 

My life is an uncompiled program without you, which never produces an executable code and hence is useless.

 

You are not only beautiful by face but all your ActiveX controls are attractive as well.

 

Your smile is so delightful; it encourages me and gives me power equal to thousands of mainframes processing power.

 

When you looked at me last evening, I felt like all my program modules are running smoothly and giving expected results. /*which I never experienced before.*/

 

With this letter, I just want to convey to you that if we are linked together, I¡¯ll provide you all objects & libraries necessary for a human being to live an error free life.

 

I anticipate that nobody has already logged in to your database so that my connect script will fail.

 

And its all but certain that if

 

this happened to me, my system will crash beyond recovery.

 

Kindly interpret this letter properly and grant me all privileges of your inbox. Error free…

 

 

Regards,

 

Software Programmer

 

Today This company

Tomorrow That Company

But always want Ur Company!

 

Teman

Posted: Maret 1, 2012 in Karya Tulis, Notes, Umum
Tag:, , ,

Teman

Aku baru menyadari ini saat ada teman-temanku mengomentari salah seorang anak di kelas. “Wah lihat si A itu cantik banget, pakaiannya serasi lagi.” (Sekedar info, A itu cewek yang memang beneran asli cewek :D ) Atau “Si B itu tulisannya rapi banget.” (Kalau orang yang karakternya tipe B ini bisa cewek, bisa cowok. Tapi umumnya kebanyakan…cewek)

Aku pun melihat ke diri sendiri, kemudian ke teman-temanku. Hmm, kok nggak ada mirip-miripnya ya? Bukan karakter tipe cewek ‘normal’ atau kebanyakan.

Then again, most my friends are weir – I mean, unique! Yeah, that’s it! It’s something special, isn’t it?

#Ngeles

But then again, me too.

Had things been different…

I imagine myself as some kind of scientist, white lab coat, messy hair, forget to eat daily (and maybe bath and stuff) , busy doing experiment, having a house that have bigger library than any other room (or a room that have more books than clothes), etc, etc, you know the drill.

Had I been a traveler (or simply going out) I’d like to dress simply, comfortable, with clothes that enable me to move freely… and no, I don’t care whether it’s suit me, whether the color is too dull (or not match at all), heck, I don’t even care whether there’s a hole in them (as long it’s not too …unnoticeable). I don’t care mixing in a crowd, looked boring. Or maybe even, poor. (At least having a poor fashion sense, if not anything else). I don’t care as long as I can go anywhere I wish without people caring about me and who I am, as long as I can do anything I like without anyone give a damn.

I hate being ordered, but mostly, I hate being denied of things I wanted to do.

Had I been a lecturer… well, there’s one of my lecturer that ‘s always messy. And he doesn’t really follow the book to teach, but he actually teaches something. Maybe that kind, sort-off.

“You’re not acting like a girl.”

“I’m a girl, I’m acting like myself so your argument is invalid.”

Though, honestly I don’t view myself as tomboyish, more like childish. A child at heart and an elder at mind :D

The point is, it’s uncommon for a girl/woman/female in general : To have interest with logical things, lack of common sense (and feelings. Don’t forget feelings), having poor fashion sense, incapable to do housework (hey! It’s just that I’ve never tried…so, ok, yeah, that’s an excuse), and so on, and so on.

The point is that I am weird unique myself. And so are, most of my friends. Birds of a feather flock together, after all.

Yeah, kebanyakan teman-temanku orang-orang aneh… yang menganggap kata aneh itu pujian. :D

Beberapa orang teman ada yang sengaja memasang profile picture ‘aneh’ di facebook (termasuk aku sendiri). Gambar kartun yang paling aneh, jelek, atau profile picture sendiri yang bukan diri sendiri. (aka. Wajah tidak terlihat). Dan ada juga yang sengaja berlagak ‘bego’ di dunia nyata…

Hanya untuk membuat orang tertawa.

They are like to see others happy, and fooling around.

Ada juga orang yang bersikeras melakukan sesuatu yang benar (menurut mereka) tidak peduli apa komentar orang lain. Meskipun itu bukan sesuatu yang umum, sesuatu yang aneh. Totalitas.

Hanya untuk drama di kelas dengan perlengkapan seadanya, sepatu pun bisa digunakan sebagai handphone sedangkan sapu bisa jadi motor. Hanya untuk yel-yel sederhana yang seharusnya 3 menit menjadi 15 menit yang ditambah-tambahi dengan tarian-tidak-jelas dan pembajakan lagu yang dibuat hancur total. Hanya untuk tes kesenian tarian berubah menjadi ala tari India, dengan musiknya dan kostum lengkap-dengan-tindikan-palsu-di-muka.

Selama SD dan SMP yang kualami adalah wajar ketika terbentuk band dadakan yang pakai sapu, bukannya gitar; ketika mata pelajaran dijadikan guyonan dan membuat ‘konferensi meja bundar’ sendiri; ketika gulungan kertas dan buku dijadikan bulu tangkis abal-abal; ketika dekorasi kelas berarti patungan untuk membeli beberapa tanaman; mereka semua kreatif dan unik dan itu tidak dianggap aneh. Bagiku itu normal. Teman-teman yang aneh itu normal.

Contoh paling sederhana di kuliah adalah teman yang terus-terusan bertanya di kelas setiap tidak mengerti. Teman yang bukannya menghindar malah sengaja duduk di barisan paling depan (tepat depan dosen pula), yang rela menyusup masuk kelas-kelas lain untuk pelajaran tambahan (jika belum mengerti).

Some of my friends are creative, unique, shine, whatever the words you’d like to use

Lalu ada teman yang sering-datang-terlambat, mengambil mata kuliah hanya karena ‘dosennya menarik’ (or so she said), telat-datang-ke-ujian-karena-terlambat-bangun, terlambat setengah jam dan keluar paling awal, tipe yang fokus pada tujuan. Ex: tujuannya ingin membeli barang A. Sudah bersusah-payah naik angkot ke pasar yang dituju ternyata harganya mahal. Dan setelah berjam-jam dia pun pulang dengan membawa… peniti. Sedangkan temanku yang satu lagi membeli ulekan. Seriously.

Lalu teman SMAku. Mungkin dialog ini lebih tepat menggambarkan kenyataan…

#Pada saat mau belanja

“Bu, kemarin saya ngutang sekian ribu…”

Oh, dia mau bayar, pikirku.

“…Sekarang saya ngutang lagi ya Bu.”

Gubrak.

Contoh dialog lain :

“Si W itu…dia begini…begitu…” (Membicarakan si W)

(Si W datang)

“Eh W, dari tadi kami ngomongin kamu lho.”

“Terus buat apa ngasih tahu ke aku?” W nya bingung.

Buat yang nggak mengerti, itu si W sengaja diberi tahu supaya ngomongnya terang-terangan. Bukan ngomong di belakang.

Some of my friends are straight, naïve honest. Can’t say I am not more naïve than them, though. It’s just…make sense that they can be trusted.

Kedua orang temanku di SMA masing-masing memilih jurusan yang mereka sukai. Bukan dari prospek kerja, bukan dari apa yang disarankan orang tua. Hanya karena mereka ingin.

“Kamu kenapa mau masuk jurusan Elektro?”

“Pengennya sih jadi tukang mesin, jadi tukang solder…”

(O__o)?!

Maybe it’s sound stupid, but the truth is they don’t really care what anyone else thinking

Salah satu teman di kuliah juga seperti itu. Bermuka tebal, masuk-seenaknya-ke-lab-di-mana-tidak-ada-orang yang dikenal, lalu (sok kenal sok akrab) bertanya/minta installer/numpang ngenet/etc. Meskipun stuck mengerjakan tugas, dia akan tetap berusaha mengerjakan sampai terakhir, meskipun peluang berhasil itu nyaris nol. Zero. Zilch. Nada. Tetap akan berusaha melamar (asisten, study group, etc), mengambil semua chances, semua kesempatan yang ada seberapapun kecilnya peluang. Bahkan mungkin alasannya tanpa pikir panjang.

They don’t afraid doing what’s right

Ada salah seorang temanku di SMA yang aku-sudah-lupa-nama-dan-wajahnya tapi aku tidak lupa perbuatannya. Waktu itu acara rihlah di Lembang, Bandung. Kebun teh di sana bagus, tapi sayangnya ada beberapa sampah bertebaran. Dia mengambil dan membawa pulang beberapa sampah tersebut, meskipun toh-itu-tidak-akan-mengubah sedikitpun, karena masih ada ratusan sampah di sana. Aneh, mungkin bodoh menurut sebagian orang.

It’s so stupid, so why the heck it’s so admirable.

Dan setelah dipikir-pikir lagi memang tidak banyak temanku yang normal. Salah satu temanku lumayan ‘hiperaktif’ sewaktu SD, tipe yang biasa dimarahi guru karena ribut, tipe yang suka mencoret-coret meja, tipe yang merobek buku-pinjaman-hanya-karena-gambarnya-sangat-sangat-keren, mencoret lengan sendiri mengikuti gaya di manga(alias komik jepang), mencoba-membawa-pulang-anak-kucing yang ditemukan di pasar dengan naik angkot dan perjalanan beberapa kilometer (too bad that last one isn’t working. I’ll be amused)

Because they are so different

Sebagian besar temanku lebih mengandalkan logika, bukan feeling (walaupun mereka cewek). Kalaupun feeling, mereka mengandalkan feeling mereka sendiri, bukan common sense. (Untungnya tidak separah diriku). Dan ya, kebanyakan mereka orang-orang aneh :D

In fact, I just learned how girls are supposed to be just after I get in the college. By that time, I’ve encountered  many kinds of people. I guess I would know more of real life once I graduated.

Each of them are special in their own ways

Some of my friends who are quite ‘normal’ were my first best-friend in elementary, another one in high school, and another one in college (that is, if over-obsessed with romance can be called normalcy… and the other one is obsessed with y**i) Most of them were brought by fate. By simply sat beside me for several years, or simply being the first person I met in the first day of the term, or simply being the next-room neighbor.

But really you guys, don’t ever change. As much as I’ve love having ideas, inspiration, exciting  experience and all, I’d always need someone to brought normalcy to my life (and keep me in line).

And of course there are some people that I don’t see as a friend, more like a ‘ideal figure’ I wanted to be. They are like on higher level or something. You know, those who are wise, mature, kind, diligent and all…

My gratitude to all my friends, you know who you are and maybe I am the one who forgot.

Best regards.

Within Darkness

Posted: Februari 24, 2012 in Karya Tulis
Tag:

Dalam Kegelapan

A.N : Karya abstrak lagi.

 

Mereka bilang, jatuhnya seseorang itu karena kesalahan yang kecil.

Awalnya hanya iseng-iseng mencoba. Dia masih muda, seragam putih biru melekat di tubuhnya. Saat itu, semua teman seumurnya yang lain juga mencoba, minimal ‘tahu’. Sedikit ‘keisengan’ remaja (tidak, dia tidak menyebutnya kenakalan. Toh dia tidak terlibat narkoba ataupun tindak kriminal, kan?) Orang dewasa tidak berhak sok munafik dan melarangnya.

Tidak ketika dia melihat contoh nyata di depan matanya sendiri.

Ke dalam kegelapan, dia melangkahkan kedua kakinya; secara sadar, dengan kehendak sendiri, tanpa rasa takut.

Terlalu bodoh.

Kesalahan adalah sebuah kesalahan. Apapun alasannya, akan selalu ada akibatnya.

Pertama kali dia merasakan kegelapan mengintainya adalah saat dia terbangun dari mimpi buruk. Dia terengah-engah untuk beberapa saat.

Ilusi. Itu cuma ilusi.

Dia mengenyahkannya dari pikiran dengan cepat, membatin dia terlalu banyak menonton film horror.

Pastinya, itu bukan perasaan bersalah.

Keesokan harinya, tidak hanya dvd, dia pun memasukkan koleksi buku, komiknya ke dalam peti dan menganggap masalahnya beres.

Mimpi cuma mimpi, kan?

Kedua tangannya berlumuran darah, pisau di tangannya, mayat membujur kaku di hadapannya. Dunia berwarna hitam putih, gelap, bibirnya membisu dan hanya air mata mengalir– YaTuhanIniTerlaluNyata – Dan lagi-lagi terbangun, menangis seperti anak kecil, dan kesulitan membayangkan bahwa  – TidakItuSemuaMimpiTapiBegituNyata– dan pikiran bercampur baur di benaknya seperti air keruh.

Kegelapan mencengkram jiwanya erat dan enggan melepaskannya. Dia sudah menjejakkan kakinya sekali ke dalamnya, berkali-kali malah. Mereka sudah terlalu lama bercengkerama dan menikmati hidup.

Hanya ada satu jalan masuk dan keluar. Mereka yang terpikat, tidak sadar bagian jiwa mereka dihisap satu persatu, pikiran mereka ditulis ulang seperti buku.

Seperti dirinya.

Kegelapan terus menyergap seperti mimpi buruk, yang berulang setiap kali dia tertidur. Begitu posesif dan tidak ingin melepas mangsanya.

Tidak selalu.

Definisi mimpi buruk adalah mimpi yang bukan mimpi indah, cerminan emosi yang terpendam dalam diri manusia, dan terjadi hanya sesekali.

Malam berganti malam, berubah menjadi minggu, dan kemudian bulan demi bulan pun berlalu.

Dia terbangun di suatu pagi yang cerah seraya tersenyum. Mengetahui mimpi buruk apapun tidak akan bisa mengganggunya lagi.

Karena, nyaris setiap hari, setiap jam, dalam setiap bilangan detik dan satuan ukuran waktu, setiap saat dia tertidur… film yang sama terus berulang.

Sekali mungkin dia berteriak. Kedua kali dia hanya menarik napas. Untuk belasan kalinya, dia mulai lelah. Dan setelah kesekian kalinya, dia menjadi terbiasa di luar kemauannya.

Mengerikan sekali bagaimana pikiran dan emosi manusia mampu beradaptasi. Bahkan dalam sebuah absurditas, dalam sebuah kegilaan, kengerian horor, menjadi sesuatu yang wajar dan normal. Nyaris tidak ada yang bisa membuatnya takut lagi.

Dan dia mulai mempertanyakan kemanusiaannya.

Kegelapan. Sekali terjebak, kau akan masuk semakin dalam.

“Jangan pikir kau bisa lari.” Mimpi seolah berkata kepadanya dengan nada mencemooh. Mungkin tertawa. Menertawai kebodohannya.

Karena – apapun alasannya, dia terjebak dan tidak bisa lari dari kegelapan. Terlepas dari mimpi buruk yang menghantuinya, dia akan selalu kembali ke sana. Hubungan mereka seperti pacar yang selalu ingin minta putus, namun mereka akan selalu kembali bertemu dan berbaikan lagi.

Dia tidak bisa berhenti. Dia ketagihan.

Dan mimpi buruk itu terus datang di malam hari, semakin lama semakin absurd. Mungkin dia akan tertawa, mungkin dia akan mempertimbangkan itu sebagai sebuah kisah yang menarik, kalau saja bukan dia tokohnya.

Dia harus menghentikan semua ini.

“Bagaimanapun caranya, aku harus berhenti.”

Dan itu tidaklah mudah. Sendirian, di tengah kegelapan, tanpa mengetahui jalan keluar. Meskipun kau mencarinya, bagaimana kau mengetahui bahwa kau tidak tersesat semakin jauh?

Di mana cahaya saat kau butuh?

“Bukankah kau yang pertama kali meninggalkannya?” ujar hati nuraninya, yang tanpa dia sadari telah berada di belakangnya. Aneh. Dia merasa telah meninggalkannya, jauh, di suatu tempat. Entah di mana.

Lihatlah sisi positifnya. Ternyata, dia masih punya hati nurani.

Sisi negatifnya? Bahkan hati nuraninya pun pesimis bahwa dia akan bisa menemukan cahayanya kembali, setelah dia meninggalkannya begitu saja, di pinggir jalan untuk mungkin kemudian dipungut oleh orang lain…

Oke, itu sebuah perumpamaan yang mustahil. Dia tertawa.

Dinding antara dunia nyata dan imajiner semakin tipis, ketika orang-orang di sekitarnya mulai mengetahui perubahan perilakunya. Tidak secara terang-terangan, tentu saja, dia tidak pernah melakukan dosa secara terang-terangan pada orang di sekitarnya.

Dosa terbesarnya, dia lakukan pada dirinya sendiri.

Topeng di wajahnya adalah tampang manusia yang biasa-biasa saja, bukan putih bersih, namun jelas lebih putih dibanding wajahnya yang sesungguhnya.

Sekarang topeng itu retak perlahan-lahan. Orang-orang mulai menjauhinya. Cahaya-cahaya kecil lepas satu demi satu, seperti kunang-kunang. Di sisi lain – di alam imajiner, kegelapan terus menarik dan menggoda, seperti magnet, baik dengan bujuk rayu halus nan manis maupun kata-kata makian, untuk setiap usahanya yang gagal.

Untuk bisa lepas darinya.

“Menyerahlah. Kau takkan bisa lepas dariku.”

“Kenapa tidak menyerah saja?”

“Kau takkan pernah menemukan cahaya kembali.”

“Kau pasti kembali. Kau akan kembali lagi…padaku.”

Pertengkaran antara mereka imbang, nyaris satu sama. Tekadnya yang katanya kokoh terkadang runtuh, dan dia pun mengikuti ajakannya. Terkadang, sesekali, dia berhasil menang, hanya untuk kalah di adu debat berikutnya. Dan mimpi buruk – yang sudah terlalu sering berlanjut untuk bisa disebut mimpi buruk – masih terjadi, sesekali, untuk esok dan lusa nanti.

Entah hingga kapan selesai.

Beberapa tahun berlalu dan dia tidak tahu apakah dia sudah lepas dari cengkraman kegelapan. Rasanya masih ada bekas sisanya, seperti luka. Rasanya tangannya takkan pernah bersih.

Dia tahu ada ratusan, ribuan orang di luar sana berada dalam cengkraman yang sama. Dan pintu menuju kegelapan selalu masih terbuka lebar, untuk masuk ke dalamnya.

Tapi tidak untuk keluar.

Kembali di dunia nyata, kehidupan berjalan, berwarna-warni seperti biasa.  Hari itu dia baru saja pulang sehabis menonton film di bioskop–horror, berdarah-darah. Temannya mengomentari betapa seramnya film tersebut. Dia hanya mengangkat bahu, ekspresinya kalem.

“Aku sudah pernah melihat yang lebih seram.”

Di mimpiku.

“Dasar, sok berani!”

Kalau kau sudah pernah melangkah ke dalam kegelapan…

“Sebenarnya, apa sih yang kamu takutkan?” Tanya temannya itu.

Kegelapan? Bukan.

Diriku sendiri?

Dia berpikir, menimbang-nimbang beberapa saat sebelum menjawab.

“Tuhan.”

 

“Logic” is merely an application, an user-interface that can be understood, yet “Emotion” is something kernel-like, or something written within binary code that can never be understood by humans, and “Love” is a bug who suddenly appear when you least expect it.

I can’t believe I hadn’t publish this yet…this fun-list that would likely keep updated. So here we go…

Tanda-tanda (ngakunya) programmer :

  • Bikin status facebook pake codingan.
  • Komen ke wall orang juga pake codingan. :D
  • Bikin feedback surat cinta pake codingan : apt-get install ke_hatimu
  • Saat terjebak macet, pikiran pertama yang muncul di kepala adalah : Wah deadlock!
  • Saat mengantri di kamar mandi , dan terus menerus tersusul sama orang lain yang terpikirkan adalah : wah starvation ini!
  • Membuat postulat : #1 Tubes IF (codingan) mustahil dikerjakan berkelompok!
    • If not kerjain_sendiri then dikerjakan_teman else dikerjakan-bareng-bareng-pasti-nggak-bakalan-selesai
    • //Kecuali, pembagian tugas, yang satu ngerjain codingan, satu dokumentasi, yang lain men-support dengan doa? :D
  • Postulat #2 : Cewek IF itu ‘spesialisasinya’ bikin dokumentasi.
    • Catch (exception kecuali-kalau-terpaksa){^_^}
  • Ngeles aja pake alasan sok-IF-banget. Contoh #1 : “Ya gimana ya, saya ini berorientasi objek, bukan berorientasi sosial, jadi…”
  • Contoh#2 : “Waduh, bukannya lupa, algoritma face recognitionnya lagi error…”
  • Menerapkan algoritma di kehidupan nyata : contoh #1 Saat hujan, ada tiga orang yang sedang berusaha menyeberang dari gedung B ke LC. Hanya aja satu payung. Dengan penerapan algoritma optimal (?) ternyata butuh dua kali menyeberang, saudara-saudara. (Abaikan kenyataan sebenarnya masih cukup terkena hujan)
  • Contoh#2 : Pada saat pindahan kos, melakukan penerapan algoritma knapsack (?) ternyata hanya perlu dua kali bolak-balik mengangkut barang sebanyak itu (Abaikan kenyataan pada saat melewati jembatan PGA motornya nyaris jatuh karena tidak seimbang dan kelebihan beban)
  • Bikin joke khas anak IF (dan tidak dimengerti oleh orang lain *yang normal*) Contoh#1 : Menjelang ujian
    • A : “Aku ga bisa belajar lagi, otakku udah overload!”
    • B: “Lah masih mending, otakku ke overwrite!”
  • Contoh #2 :
    • Sehari menjelang pengumpulan tubes :
    • A : Aku mau bunuh diri aja~
    • B : Jangan! Di sini kamu udah menderita, jangan nanti di akhirat masuk neraka!
    • C: Jangan! Ntar kalau di neraka ntar di suruh ngoding gimana? Di sini aja kamu ga tahan!
  • Setiap kali bikin tanda () pasti bikin tanda kurung dulu baru mengisi di dalamnya
  • Join dan me-like dan me-share dan men-tag status dan foto di “I am programmer I have no life.”
  • Membaca list ini sampai nomor terakhir :D