Teman
Aku baru menyadari ini saat ada teman-temanku mengomentari salah seorang anak di kelas. “Wah lihat si A itu cantik banget, pakaiannya serasi lagi.” (Sekedar info, A itu cewek yang memang beneran asli cewek
) Atau “Si B itu tulisannya rapi banget.” (Kalau orang yang karakternya tipe B ini bisa cewek, bisa cowok. Tapi umumnya kebanyakan…cewek)
Aku pun melihat ke diri sendiri, kemudian ke teman-temanku. Hmm, kok nggak ada mirip-miripnya ya? Bukan karakter tipe cewek ‘normal’ atau kebanyakan.
Then again, most my friends are weir – I mean, unique! Yeah, that’s it! It’s something special, isn’t it?
#Ngeles
But then again, me too.
Had things been different…
I imagine myself as some kind of scientist, white lab coat, messy hair, forget to eat daily (and maybe bath and stuff) , busy doing experiment, having a house that have bigger library than any other room (or a room that have more books than clothes), etc, etc, you know the drill.
Had I been a traveler (or simply going out) I’d like to dress simply, comfortable, with clothes that enable me to move freely… and no, I don’t care whether it’s suit me, whether the color is too dull (or not match at all), heck, I don’t even care whether there’s a hole in them (as long it’s not too …unnoticeable). I don’t care mixing in a crowd, looked boring. Or maybe even, poor. (At least having a poor fashion sense, if not anything else). I don’t care as long as I can go anywhere I wish without people caring about me and who I am, as long as I can do anything I like without anyone give a damn.
I hate being ordered, but mostly, I hate being denied of things I wanted to do.
Had I been a lecturer… well, there’s one of my lecturer that ‘s always messy. And he doesn’t really follow the book to teach, but he actually teaches something. Maybe that kind, sort-off.
“You’re not acting like a girl.”
“I’m a girl, I’m acting like myself so your argument is invalid.”
Though, honestly I don’t view myself as tomboyish, more like childish. A child at heart and an elder at mind
The point is, it’s uncommon for a girl/woman/female in general : To have interest with logical things, lack of common sense (and feelings. Don’t forget feelings), having poor fashion sense, incapable to do housework (hey! It’s just that I’ve never tried…so, ok, yeah, that’s an excuse), and so on, and so on.
The point is that I am weird unique myself. And so are, most of my friends. Birds of a feather flock together, after all.
Yeah, kebanyakan teman-temanku orang-orang aneh… yang menganggap kata aneh itu pujian.
Beberapa orang teman ada yang sengaja memasang profile picture ‘aneh’ di facebook (termasuk aku sendiri). Gambar kartun yang paling aneh, jelek, atau profile picture sendiri yang bukan diri sendiri. (aka. Wajah tidak terlihat). Dan ada juga yang sengaja berlagak ‘bego’ di dunia nyata…
Hanya untuk membuat orang tertawa.
They are like to see others happy, and fooling around.
Ada juga orang yang bersikeras melakukan sesuatu yang benar (menurut mereka) tidak peduli apa komentar orang lain. Meskipun itu bukan sesuatu yang umum, sesuatu yang aneh. Totalitas.
Hanya untuk drama di kelas dengan perlengkapan seadanya, sepatu pun bisa digunakan sebagai handphone sedangkan sapu bisa jadi motor. Hanya untuk yel-yel sederhana yang seharusnya 3 menit menjadi 15 menit yang ditambah-tambahi dengan tarian-tidak-jelas dan pembajakan lagu yang dibuat hancur total. Hanya untuk tes kesenian tarian berubah menjadi ala tari India, dengan musiknya dan kostum lengkap-dengan-tindikan-palsu-di-muka.
Selama SD dan SMP yang kualami adalah wajar ketika terbentuk band dadakan yang pakai sapu, bukannya gitar; ketika mata pelajaran dijadikan guyonan dan membuat ‘konferensi meja bundar’ sendiri; ketika gulungan kertas dan buku dijadikan bulu tangkis abal-abal; ketika dekorasi kelas berarti patungan untuk membeli beberapa tanaman; mereka semua kreatif dan unik dan itu tidak dianggap aneh. Bagiku itu normal. Teman-teman yang aneh itu normal.
Contoh paling sederhana di kuliah adalah teman yang terus-terusan bertanya di kelas setiap tidak mengerti. Teman yang bukannya menghindar malah sengaja duduk di barisan paling depan (tepat depan dosen pula), yang rela menyusup masuk kelas-kelas lain untuk pelajaran tambahan (jika belum mengerti).
Some of my friends are creative, unique, shine, whatever the words you’d like to use
Lalu ada teman yang sering-datang-terlambat, mengambil mata kuliah hanya karena ‘dosennya menarik’ (or so she said), telat-datang-ke-ujian-karena-terlambat-bangun, terlambat setengah jam dan keluar paling awal, tipe yang fokus pada tujuan. Ex: tujuannya ingin membeli barang A. Sudah bersusah-payah naik angkot ke pasar yang dituju ternyata harganya mahal. Dan setelah berjam-jam dia pun pulang dengan membawa… peniti. Sedangkan temanku yang satu lagi membeli ulekan. Seriously.
Lalu teman SMAku. Mungkin dialog ini lebih tepat menggambarkan kenyataan…
#Pada saat mau belanja
“Bu, kemarin saya ngutang sekian ribu…”
Oh, dia mau bayar, pikirku.
“…Sekarang saya ngutang lagi ya Bu.”
Gubrak.
Contoh dialog lain :
“Si W itu…dia begini…begitu…” (Membicarakan si W)
(Si W datang)
“Eh W, dari tadi kami ngomongin kamu lho.”
“Terus buat apa ngasih tahu ke aku?” W nya bingung.
Buat yang nggak mengerti, itu si W sengaja diberi tahu supaya ngomongnya terang-terangan. Bukan ngomong di belakang.
Some of my friends are straight, naïve honest. Can’t say I am not more naïve than them, though. It’s just…make sense that they can be trusted.
Kedua orang temanku di SMA masing-masing memilih jurusan yang mereka sukai. Bukan dari prospek kerja, bukan dari apa yang disarankan orang tua. Hanya karena mereka ingin.
“Kamu kenapa mau masuk jurusan Elektro?”
“Pengennya sih jadi tukang mesin, jadi tukang solder…”
(O__o)?!
Maybe it’s sound stupid, but the truth is they don’t really care what anyone else thinking
Salah satu teman di kuliah juga seperti itu. Bermuka tebal, masuk-seenaknya-ke-lab-di-mana-tidak-ada-orang yang dikenal, lalu (sok kenal sok akrab) bertanya/minta installer/numpang ngenet/etc. Meskipun stuck mengerjakan tugas, dia akan tetap berusaha mengerjakan sampai terakhir, meskipun peluang berhasil itu nyaris nol. Zero. Zilch. Nada. Tetap akan berusaha melamar (asisten, study group, etc), mengambil semua chances, semua kesempatan yang ada seberapapun kecilnya peluang. Bahkan mungkin alasannya tanpa pikir panjang.
They don’t afraid doing what’s right
Ada salah seorang temanku di SMA yang aku-sudah-lupa-nama-dan-wajahnya tapi aku tidak lupa perbuatannya. Waktu itu acara rihlah di Lembang, Bandung. Kebun teh di sana bagus, tapi sayangnya ada beberapa sampah bertebaran. Dia mengambil dan membawa pulang beberapa sampah tersebut, meskipun toh-itu-tidak-akan-mengubah sedikitpun, karena masih ada ratusan sampah di sana. Aneh, mungkin bodoh menurut sebagian orang.
It’s so stupid, so why the heck it’s so admirable.
Dan setelah dipikir-pikir lagi memang tidak banyak temanku yang normal. Salah satu temanku lumayan ‘hiperaktif’ sewaktu SD, tipe yang biasa dimarahi guru karena ribut, tipe yang suka mencoret-coret meja, tipe yang merobek buku-pinjaman-hanya-karena-gambarnya-sangat-sangat-keren, mencoret lengan sendiri mengikuti gaya di manga(alias komik jepang), mencoba-membawa-pulang-anak-kucing yang ditemukan di pasar dengan naik angkot dan perjalanan beberapa kilometer (too bad that last one isn’t working. I’ll be amused)
Because they are so different
Sebagian besar temanku lebih mengandalkan logika, bukan feeling (walaupun mereka cewek). Kalaupun feeling, mereka mengandalkan feeling mereka sendiri, bukan common sense. (Untungnya tidak separah diriku). Dan ya, kebanyakan mereka orang-orang aneh
In fact, I just learned how girls are supposed to be just after I get in the college. By that time, I’ve encountered many kinds of people. I guess I would know more of real life once I graduated.
Each of them are special in their own ways
Some of my friends who are quite ‘normal’ were my first best-friend in elementary, another one in high school, and another one in college (that is, if over-obsessed with romance can be called normalcy… and the other one is obsessed with y**i) Most of them were brought by fate. By simply sat beside me for several years, or simply being the first person I met in the first day of the term, or simply being the next-room neighbor.
But really you guys, don’t ever change. As much as I’ve love having ideas, inspiration, exciting experience and all, I’d always need someone to brought normalcy to my life (and keep me in line).
And of course there are some people that I don’t see as a friend, more like a ‘ideal figure’ I wanted to be. They are like on higher level or something. You know, those who are wise, mature, kind, diligent and all…
My gratitude to all my friends, you know who you are and maybe I am the one who forgot.
Best regards.